Rabu, 11 Juli 2012

Perawatan burung cendet

PMK ( Pancoran Kicau Mania).




BURUNG CENDET/PENTET

Perawatan cendet-cendet jawara

Ini adalah sebuah cerita tentang perawatan cendet-cendet yang namanya biasa menghiasi tabloid-tabloid burung. Hanya saja perlu dicatat sebelumnya, bahwa perawatan burung adalah tidak sama di antara sesama pemilik burung cendet jawara. Ada kesamaannya, tetapi banyak pula perbedaannya. Oke, ikuti saja ya cerita dari Agrobis Burung ini.
Perawatan cendet jawara secara umum hampir sama: mandi sepuasnya pada pagi hari, jemur lumayan kuat, jangkrik pagi-sore plus kroto, serta ulat hongkong menjelang lomba. Saat ngurak, burung juga tidak dimandikan, tapi sangkar tetap dibersihkan. Satu hal yang penting; tautan hati antara sang jagoan dan si perawat juga sangat penting dan menentukan!
Tak pelak lagi, hingga kini cendet termasuk burung yang sangat bergengsi. Sejumlah jagoan ternama pun ikut mengangkat nama pemiliknya ke jenjang tertinggi. Bagaimana merawat sang jagoan, mulai di rumah, menyiapkan ke lomba, hingga saat mabung?
Sejumlah nama cendet sangat dikenal ketangguhannya di lapangan. Sebut saja Monster milik Agung Budiman yang sehari-hari dirawat oleh Mamat, Siluman milik Vincent Semarang yang dirawat oleh Yus, juga ada Premium milik WS Suprojo yang kini mukim di Banjarmasin tapi burung dirawat di Salatiga oleh Agus Nasa dan Tedi, serta Xtrime-nya Mr Jombang Jogja.
Siluman, setelah masa mabung yang cukup lama, sekitar 8 bulan, akhirnya menunjukkan tajinya dengan memenangi sejumlah even besar. Mulai dari Pragola Pati, Bupati Cup Pemalang (18/6) nyeri, Orapi Cup Salatiga (28/6) nyeri, Batik Cup Pekalongan (18/7) meraih juara 1 dan 2.
Akan halnya Premium dan Xtrime berbagi juara 1 dan 2 pada even yang juga tak kelah berat, yaitu Gubernur Cup Jawa Tengah di Solo (18/7).
Monster seusai mabung dicoba di dua even, yaitu Trah Ab-E Sleman dan Gilas Cup Jogja (11/7). Kini, kondisi Monster yang dirawat oleh Mamat benar-benar lagi mempeng-mempengnya, dan menunggu “meledak” di Piala Raja 2010 dan akan dilanjutkan di Achun Award 2010 (artikel ini ditulis sebelum Piala Raja. Nah, Anda bisa melihat apakah burung-burung yang namanya disebutkan di sini memang muncul sebagai jawara di Piala Raja atau tidak dengan melihat artikel “Hasil Lengkap Piala Raja”
Perawatan ngurak dan harian SilumanSelama masa ngurak, Siluman tidak mandi, extra fooding jangkrik diberikan pagi dan sore masing-masing 5 ekor. Selama di rumah alias ketika tidak disiapkan untuk lomba, Siluman diberi jangkrik pagi dan sore juga 5 ekor.
Pemberian pagi hari dilakukan sebelum dijemur. Setelah dijemur selama kurang lebih 10 menit, kemudian dimandikan, selanjutnya diberikan kroto secukupnya, lantas dijemur lagi selama kurang lebih 3 jam. Sore hari sekitar jam 4 diberi lagi jangkrik 4 ekor.
Perawatan lomba SilumanHari Senin-Kamis perawatan biasa seperti. Rawatan hari Jumat ditambah ulat hongkong 5 ekor, Sabtu asupan jangkrik ditambah sampai 25 ekor atau melihat kondisi burung. Minggu di lapangan cendet harus mandi. Seusai mandi,
tambah ulat hongkong 10 ekor, jemur dan krodong sampai dengan satu sesi sebelum lomba dimulai.
Perawatan Xtrime Mr JombangPagi hari dikeluarkan supaya kena matahari sebentar saja. Kemudian mandi pagi lantas diberi jangkrik 4 ekor dan sore 4 ekor. Menjelang lomba perawatan hampir sama, hanya diistirahatkan dengan full krodong. Hari Minggu di lapangan sebelum digantang burung harus mandi sampai puas. Extra fooding prinsipnya sama dengan harian, hanya pada hari Minggu ditambah ulat hongkong secukupnya.
Perawatan cendet Premium
Ngurak: full krodong, tetapi kandang tetap dibersihkan setiap hari. Seminggu sekali extra fooding ditambah porsinya dari menu harian biasa, setelah bulu berhenti jatuh dan mulai tumbuh, kandang dibersihkan 2 atau 3 hari sekali.
Harian: Setelah bulu mulai panjang perawatan rutin kembali seperti harian/ semula. Menu utama jangkrik pagi dan sore 5 ekor ditambah kroto, mandi tiap pagi.
Stelan Lomba: Amati birahi dan power dari burung. Bila mulai kelihatan, burung jawara bisa mulai dicoba mulai dari latber. Pantau kelebihan dan kekurangannya, kemudian dimodifikasi sambil jalan sampai ketemu stelan yang pakem dan sang jawara bisa nampil maksi.
Master full sepanjang hariDi blok tengah khususnya Jogja, nama Monster sangat disegani. Saat ini, bisa dikatakan Monster menjadi salah satu yang terbaik, pada saat kerja maksimal. Setelah melalui masa mabung, Monster mulai menunjukkan geliat yang menggembirakan bagi sang perawat dan pemilik, tapi sangat menakutkan bagi calon musuh-musuhnya.
Fisik Monster memang sangar. Paruhnya layaknya celurit, volumenya tembus, materi lagunya juga sangat lengkap dan dinyanyikan dengan sangat bagus. “Sekarang benar-benar lagi mempeng, seusai Gilas, sengaja kita istirahatkan, benar-benar disiapkan untuk Piala Raja. Ya, sebagai tuan rumah, tentu kita juga ingin memberikan perlawanan yang maksimal,” kata Agung Budiman.
Diperkirakan, Monster akan tetap pada top formnya sampai Achun Award pada 3 Oktober. “Kalau kondisi masih oke, tentu akan kita turunkan di sana, even yang sangat bergengsi tentu sayang kalau lewat.”
Dengan melihat kondisi burung yang benar-benar siap, Agung pun berharap juri PBI terpilih yang bekerja di Piala Raja benar-benar bisa bekerja dengan baik, kontrol maksimal, teliti dan adil, sehingga tidak mengecewakan para peserta.
Secara umum, perawatan Monster simpel dan tidak rumit. Sehari-hari menggunakan kandang harian kotak 45 x 45 sehingga cukup lega. “Kebetulan burung juga gampang, tidak banyak ulah. Saya kira ini karena kami sejak awal selalu merawat secara alami.”
Sebenarnya, burung benar-benar dirawat hanya pada pagi hari saja, mulai membersihkan kandang, memberi jangkrik, memandikan, hingga menjemur sampai dengan jam 11-an. Selama masa penjemuran yang normalnya selama sekitar 3 jam itu, kolak pakan dan minum dikosongkan. Jadi, selama itu memang burung-benar-benar dijemur, tak boleh makan minum.
Setelah diambil dari jemuran, burung kemudian diberi kroto secukupnyas lantas dibawa ke rumah dan full krodong. Sore, hanya diberi jangkrik lagi 5 ekor atau menyesuaikan, kemudian diistirahatkan.
Nah, selama dikerodong, Monster selalu ditempel master. Master utama Mamat tidak mau repot-repot, menggunakan sounic master. “Selalu hidup full 24 jam, tidak pernah saya matikan.” Namun, di luar sounic secara periodik memang ada burung lain, seperti lovebird dan baru-baru ini juga rambatan. Lovebird bahkan selalu dibawa ke lapangan dan ditempel terus di sebelah monster.
Menjelang lomba, “perawatan harian” justru dikurangi intensitasnya. Extrafooding ditambah dengan ulat hongkong dari hari Kamis. Mulai Jumat mandi dikurangi, jemur juga sebentar sarnpai jam 09.30-an saja, lebih banyak dikrodong dan istirahat.
Dari kandang harian, Monster dipindah ke sangkar lomba sejak Kamis. Di lapangan, burung dijauhkan dari burung-burung lain, terutama sesama cendet. Kini senjata Monster kian lengkap, selain lagu-lagu dari sounic, juga sudah memainkan lagu Rambatan yang “sekolah”-nya belum lama berselang.
Cerita soal Pardise
Paradise adalah salah seekor pentet debutan yang prestasinya stabil sejak kemunculannya awal 2010. Mengawali kiprahnya di lomba seputar Jabar, kemudian burung andalan Tio-GG Purwakarta ini terus menanjak prestasinya. Bahkan tidak hanya jago di seputar Jabar, kepiawaiannya sudah merambah keberbagai blok, di antaranya Sumatera dan blok Jimur.
Di seputar Jabar, double winner sering direbutnya. Minimal, posisi 3 besar ditempatinya. Terakhir, Paradise menduduki peringkat II di Gubernur Cup Bali (18/7). Sepekan kemudian, Paradise kembali diturunkan di even besar Bandung Fiesta (25/7), dan sukses merebut juara II di dua kelas yang berbeda. Dengan rentetan prestasi yang dikoleksinya, membuktkan bahwa Paradise bukan burung sembarangan.
Untuk ukuran di Jabar, yang penggemarnya tak sebanyak kelas anis merah, kenari atau muray batu, Paradise diakui sebagai salah satu pentet terbaik, yang konsisten di jalur juara.
Paradise berasal dari blok Tengah, yang merupakan habitat aslinya. Tio mengambil dari Ricky Donald Yogya, dalam kondisi mabung. Sebelumnya, Paradise sering nampil di blok Tengah dan rajin menembus papan atas. Meski begitu, karena diambilnya dalam kondisi mabung, perawatan jadi tidak mudah bagi Tio untuk menampilkan kembali Paradise ditangga juara. Apalagi berpindah tangan ke daerah yang iklimnya berbeda, tentunya memerlukan adaptasi yang tidak sebentar.
Dengan kondisi demikian, maka Tio pun menyeting pola perawatan yang baru, namun secara garis besar tidak melenceng dari perawatan sebelumnya. “Hanya menyesuaikan dengan kondisi cuaca di Jabar, yang cenderung lebih dingin.”
Paradise mengawali perawatan kesehariannya pada jam 6.30 pagi, yang langsung dikasih jangkrik sebanyak tiga ekor. Kemudian, burung dijemur selama sejam. Selanjutnya, burung dimandikan. Setelah itu, burung kembali dijemur, namun kali ini lebih lama, yakni sampai jam 11 siang. “Sambil dijemur, burung diberi jangkrik lagi sebanyak 2 ekor,” tambahnya.
Setelah dijemur, sebelum dimasukkan ke dalam rumah, burung diangin-anginkan lebih dulu. Setelah itu, burung dikerodong full sampai sore. Sore harinya, burung hanya diberi jangkrik lagi sebanyak tiga ekor.
Menjelang lomba, burung mendapat perlakuan yang sama seperi perawatan harian. Hanya saja, di arena lomba burung sebelum tempur diberikan ulat hongkong sebanyak tiga ekor dan seekor jangkrik, di setiap sesinya.
Jangan digenjot ekstra fooding
Kali ini cerita Tores. Cendet ini baru lima kali turun gelanggang setelah mabung pertama. Umurnya masih muda belia tetapi Tores sudah mengantongi gelar juara. Turun pertama di Panjer bertengger di posisi I dan II, turun kedua di Kapolres Jembrana juara I dan II, turun ketiga di Panjer juara II dan III langsung ditransfer Agung Tato senilai Rp 20 juta.
Di tangan Agung Tato, Tores tidak kerja di latber Sanglah. Akhirnya dikembalikan kepada Anto, sang perawat awal. Di tangan Anto, Tores kembali moncer. Begitu juga turun di Bali Santhi, Tores kerja maksimal dan banyak penonton yang memfavoritkan sebagai kandidat juara, namun sayang juri memilih yang lain dan Tores tidak masuk nominasi, hanya masuk di sepuluh besar.
“Dalam kondisi yang masih muda belia, Tores memang tidak bisa digenjot,” papar Anto, perawat Tores.
Sedikit saja digenjot, cendet yang baru mabung perdana akan langsung over birahi. Jika sudah munting, maka cendet muda tersebut akan kesulitan untuk dikembalikan. Meski tidak diberikan ekstrafooding pun cendet tersebut akan tetap rusak. Cara mengembalikannya mesti menunggu mabung lagi. “Saat mabunglah waktu yang paling tepat untuk menset-up ulang perawatannya,” papar Anto.
Berbeda dengan burung yang sudah matang usia atau tua yang bisa dilakukan penggenjotan sebab biasanya cendet dewasa lebih kuat menahan ekstra fooding tetapi powernya kurang maksimal. Berbeda dengan burung muda, mesti sedikit hati-hati menakar ekstra fodingnya. Biasanya burung muda lebih berpower. Karena itu, jika cendet muda dan dewasa bertarung, umumnya yang muda lebih unggul soal power suara.
Burung muda, kata Anto, di rumah lebih baik digandeng dengan cendet yang lain. Hal ini untuk melatih mental tempurnya. Tetapi jika serumah ada cendet, maka mesti selalu dikerodong.
Meski digandeng, Tores misalnya, jarang berbunyi selama dikerodong walau di sekitarnya banyak suara burung. Cuma kalau dibuka sedikit, Tores langsung bunyi.
Tores yang baru ngurak pertama, hanya mengkonsumsi jangkrik harian 1×1 ditambah kroto sedikit saja. Mandi seminggu dua kali dan jemur sebentar saja, hanya sampai kering. Menjelang lomba mulai hari Kamis, Tores dimasukkan sangkar ukir atau lomba. Jangkrik cuma dinaikkan 3×3 plus kroto sedikit. Pernberian jangkrik dengan jalan disuapi. Karena sifat Tores kalau sudah masuk sangkar ukir, ia tidak mau makan di cepuk. Minggu pagi diberi 5 jangkrik langsung berangkat ke lapangan.
Gudang cendetPartai neraka! Begitu cap yang selalu menempel di kelas cendet ini di kawasan Jatim dan Madura. Hingga kini blok timur masih diakui menjadi gudangnya cendet berkualitas. Khususnya Surabaya dan Madura. Banyak kicaumania ingin mencicipi kerasnya persaingan. Minimal mereka sekadar ingin memacu adrenalin bertarung di partai neraka.
Meski dibilang partai paling keras bukan berarti dominasi jawara selalu muncul dari kedua kota tadi. Malang, yang dikenal sebagai penghasil kenari terbesar dan bersuhu dingin juga sudah piawai mencetak cendet-cendet level nasional.
Ketika ditemui di Bugis Cup, tercatat ada tiga nama yang siap menghentak di pentas nasional. Yakni Sirag Sarek milik Rudi Cheko; Young Guns, Celeng milik Dion Goa Gong, dan Osama milik Ach Baidawi, Purwodadi.
Berdasarkan prestasi dan materi, ketiganya tak bisa dianggap enteng. Suara kasar, tancep, lengkingan volume sudah mereka kantongi. Bahkan baru-baru ini Sirag Sarek berhasil menukik ke posisi kedua di Piala Gubernur Jatim, Celeng berhasil mengantarkan Dion menjadi cendetmania baru berpotensi di Kalimantan, lewat Grand Opening BBC.
Ketiganya punya karateristik perawatan yang berbeda. Rudi misalnya melakukukan perawatan yang mewajibkan besutannya tampil setiap pekan. “Kalau turun dua pekan sekali daya fighternya mengendur, makanya sebelum turun ke Piala Raja, Sirag Sarek harus tetap tampil di lapangan,” jelasnya pasca merebut posisi puncak Cendet Executive di Bugis Cup.
Sedangkan Dion punya cara sendiri untuk menjaga fighter Celeng di lapangan. Dobel kerodong dengan ketebalan dan warna yang berbeda menjadi pilihan. “Kalau enggak menggunakan kerodong seperti ini, burung bisa tarung terus,” jelas pria berperawakan subur itu.
Selama ini, penggunaan dobel kerodong dapat mengkondisikan besutannya tetap stabil. “Kalau mengenai prestasi lapangan, semua tergantung itikad juri untuk fair play. Khusus pemain baru, usahakan jangan punya niat datang ke lomba harus menang. Biasakan untuk siap kalah, jadi meski burung kerja bagus tapi enggak juara masih bisa legowo,” bebernya sambil menceritakan pengalamannya turun di Bali.
Bagi Baidawi, stabilitas performa cendet tergantung dari pola perawatan. Meski punya materi bagus, kalau pola perawatan tidak sesuai maka sulit tampil stabil. “Stabilitas perawatan kunci keberhasilan menjaga performa cendet,” jelasnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar